Pada Randai Kuansing Kita Belajar Demokrasi

Sebanyak 16 grup tari dari berbagai grup baik itu dari Pekanbaru juga grup Kabupaten lain di Riau meramaikan peringatan Hari Tari Dunia 2018 di Teater Arena, Dinas Kebudayaan Provinsi Riau 29 April 2018 malam. Sebagai penyelenggara, Komite Tari Dewan Kesenian Riau mengundang grup dengan beragam bentuk karya dan aliran, seperti Sendayung dari Kampar Kiri, Balai Proco dari Rokan Hulu, Bina Tasik dari Pelelawan, Randai Ali Baba dari Kuansing, dan Balai Sanggam Melayu, Tengkah Zapin Pekanbaru, Wan Dance Studio, Begawai tari, Sri Melayu, Otaku Dance Company, Buih Selari, Latah Tuah,  Merawang, Anak Cikal, Riau Dance Theater, Opera Kuantan dari Pekanbaru.

Sepanjang pengalaman menonton pertunjukan di Riau, baru kali kedua ini Randai Kuansing terlihat jelas  dimensi-dimensi yang ingin dikomunikasikan kepada publik. Dan saya merasa takjub karena merasa berhasil berdialog dengan nilai-nilai yang ingin disampaikan. Atas nama keberhasilan komunikasi tersebut, tulisan ini diperuntukkan.

Sempritan dan Konvensi Gerak Randai

Randai Kuansing adalah seni rakyat yang mengalami transformasi dari Randai Minangkabaru. Menurut sejarahnya seni Randai ini dibawa oleh masyarakat Minang yang berpindah dan hidup di Kampar hingga daerah Kuantan Singingi (Kuansing) saat ini. Di Kuansing, Randai mengalami penyesuaian dengan nilai-nilai yang ada dan berkembang hingga bentuk dan cara penyajiannya berbeda dari bentuk asalnya di Minangkabau.

Maestro Randai Kuansing, Fahri yang hadir sebagai pembuka cerita, menceritakan eksistensi kelompok Randai yang akan tampil. Kelompok Randai Ali Baba yang hadir pada Hari Tari Dunia 2018 di Teater Arena ini terbilang kelompok legendaris. Terbentuk sejak tahun 1960-an, hingga kini sudah dimainkan oleh generasi ketiga. Sebagai kelompok tertua di Kuansing, Ali Baba masih memegang teguh tata aturan gerak penyajian Randai.

Saat Fahri membuka cerita, terlihat 6 orang pemusik sedang bersiap-siap di sisi belakang panggung. Saat pembuka selesai, Biola dan gendang khas Randai Kuansing memulai lagu. Kemudian bunyi sempritan  dibunyikan kuat dan panjang, petanda bagi 17  pemain (penari) untuk memasuki panggung. Para pemain itu membentuk lingkaran bergerak maju mundur dan berputar ke kanan. Gerak ini adalah konvensi Randai Kuansing yang selalu dijaga.

randai 3

Sebagai sebuah konvensi yang harus dijaga, tidak jarang Fahri mengingatkan para pemain utama dan pemain dari penonton untuk tetap bergerak dan berputar bersama-sama. Bahkan untuk memberikan instruksi sederhana, Fahri membandingkannya dengan gerak yang lazim terjadi di diskotik. Gerakan orang-orang di diskotik cenderung berkumpul di tengah. Sedangkan Randai berputar melingkar melawan putaran arah jarum jam. Saking pentingnya hal ini, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau yang turut melebur juga ikut mengingatkan.

Jika melihat secara detail, sempritan memiliki peran penting sebagai pengatur tempo dan irama gerak pemain. Tidak hanya itu, pola pattern gendang Randai Kuansing (mirip pattern gendang Dangdut), menjalin pola interlocking yang tidak tetap. Kadang-kadang pattern sempritan mendahului pattern  gendang, kadang sebaliknya. Hal ini memang tidak ada aturan baku. Bagi seni komunal seperti ini, sempritan dibunyikan pada waktu yang tidak pasti. Namun karena tetap pada tempo yang sama, maka di sinilah kejutan-kejutan jalinan irama antara sempritan, gendang, dan gerak Randai tercipta tanpa bisa diprediksi.

Daya Magnetis Randai Kuansing

Sejak introduksi penampilan Kelompok Randai Kuansing oleh Monda Gianes sebagai pembawa acara, penonton sudah melibatkan diri dengan teriakan riang. Penonton yang kira-kira berjumlah 100-an terlihat sangat gembira menunggu penampilan kelompok Randai Ali Baba. Teriakan-teriakan spontan penonton adalah upaya pelibatan diri sejak dini. Ketika sempritan melengking, seraya lagu dilantunkan,  maka penonton tadi menyerbu untuk berbaur dan mentransformasi diri menjadi pemain.

Gejala di atas menimbulkan pertanyaan, kekuatan apa yang membuat penonton sebegitu besar rasa keterlibatannya: seperti tidak ingin ketinggalan dari penonton lain. Apa yang membuat orang-orang  itu “kehilangan” rasa segan berebut peran dalam lakon Randai Kuansing? Daya magnetis apa yang merampas kesadaran khalayak Randai Kuansing? Tentu untuk menjawabnya dibutuhkan riset lintas disiplin secara menyeluruh dalam waktu yang relatif panjang. Mungkin dalam “dunia Randai Kuansing” terdapat sistem sosial yang khas, sistem komunikasi yang unik. Jika perlu mendiagnosa kecenderungan  psikologi masyarakat pendukung Randai Kuansing.

Namun ada sedikit kelonggaran jika ingin meraba-raba gejala itu dengan pendekatan kebudayaan. Sekedar meraba, atau menebak alasan-alasan logis pemilihan artistik Randai Kuansing. Kostum, misalnya. Para pemain utama kelompok Ali Baba dominan menggunakan kostum kemeja putih dan celana hitam. Baju dimasukkan ke celana, rapi. Namun di antara mereka terdapat beberapa pemain menggunakan kostum berbeda. Misalnya dua orang yang (jika tak keliru) transgender, dengan rambut lurus menjuntai sebahu. Keduanya berpakaian anggun-cantik sedikit terbuka berwarna cerah. Salah satu diantaranya terlihat memiliki tatto di bagian belakang bahu kanan atas. Pemain lain yang terlihat  berbeda adalah seorang lelaki menggunakan jins hitam dan baju wanita. Di kepalanya bertengger mahkota beraneka warna. Namun rambutnya yang cepak masih menjelaskan bahwa dia lelaki. Agaknya dia pemeran Bujang Gadih.

Dari pemilihan kostum di atas, agaknya Randai Kuansing berniat menonjolkan beberapa persona. Persona-persona yang dalam konstelasi sosial politik Indonesia hari ini membawa mereka pada ruang minoritas. Ketika kostum hitam-putih seragam dipakaikan pada persona mayoritas, dan kostum berwarna-mencolok untuk persona minoritas, di sinilah upaya keberagaman diwujudkan. Sejak keberadaannya, belum pernah terdengar kejadian-kejadian yang memerkarakan persona-persona tersebut. Jika pun ada, Randai senantiasa siap menyesuaikan diri. Semisal pada peran Bujang Gadih. Pada awalnya, Bujang Gadih diperankan seorang wanita. Seiring perjalanan waktu, kehadiran wanita pada Randai yang tampil hingga larut malam, dirasa tidak sesuai dengan aturan yang berlaku di daerah tersebut. Maka sosok wanita diganti dengan pria, namun tetap menggunakan pakaian wanita.

Selain kostum, kita juga bisa mengamati pola gendang Randai Kuansing. Pola gendang Randai yang mirip dengan pola gendang dangdut tentu saja memiliki efek yang sama bagi penontonnya. Jika ingin dikomparasikan, gendang Dangdut dan gendang Randai memiliki daya tarik yang sama. Pola gendang Dangdut menggerakkan kesadaran penontonnya. Dan bagi penonton Randai tentu ini bukan hal asing jika sudah awam terhadap pola gendang Dangdut.

Sederhananya, daya magnetis Randai terletak pada karakternya sebagai seni komunal. Gerakannya relatif mudah, irama musiknya menyenangkan, kelakar dan lelucon segar menjadi kekuatan setiap lakonnya. Fungsi seni Randai dalam masyarakatnya memang untuk hiburan. Dan terlepas dari itu Randai adalah seni pergaulan, di mana dalam menarikan gerakannya setiap pemain dikondisikan untuk saling berdekatan dan berinteraksi dalam suasana gembira. Dan banyak faktor lainnya.

Ketika penonton menyerbu melibatkan diri menjadi pemain Randai, maka Randai Kuansing menjelma menjadi citra Bangsa plural sejati. Hal ini yang mungkin berada di luar kesadaran publik yang meleburkan diri pada Randai. Sejak sempritan dibunyikan, Randai Kuansing senantiasa membuka diri bagi siapa saja untuk berekspresi bersama-sama sekaligus berapresiasi bersama-sama. Akhirnya Randai Kuansing menjadi tempat kita untuk belajar berdemokrasi: menyampaikan dan menerima perbedaan.

Aristofani Fahmi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s