“Peradaban” Tari di Riau Bertumpu Pada “Tubuh” Koreografer Ini

Begawai Tari di Pekanbaru menghelat kegiatan pra Hari Tari Dunia 2018. “Tubuh & Peradaban” yang menjadi tema kegiatan ini memuat beban berat pada penyelenggara, pengkarya, dan karya tari yang ditampilkan pada 26 April 2018 ini. Slogan yang berkembang dari wacana kekaryaan tari Nasional seperti: Bahasa Tubuh, Tubuh yang Berpikir, Tubuh yang Merdeka, serta Tubuh dan Peradaban menjadi bingkai 24 karya yang ditampilkan di Laman Bujang Mat Syam, Bandar Serai Pekanbaru.

Namun dari karya-karya yang ditampilkan di awal belum berhasil menjadi bagian dari wacana karya tari tersebut. Tapi tidak semuanya, terdapat beberapa karya yang dapat dijadikan tumpuan harap. Sebut saja M. Darus, Muhammad Sukri, Dewi Safrila, Achoel, Dio dan Wan Harun Ismail, sadar atau tidak tanggung jawab itu sedang mereka pikul.

Darus hadir  mengawali helat  tampil dengan tarian Olang-olang khas suku Sakai. Tarian ini menjadi berbeda dan memiliki nilai lebih karena ditarikan oleh Darus yang memang seorang Bomo atau pemimpin adat suku Sakai. Tarian Olang-Olang yang selama ini dibawakan dengan  kostum dari kulit kayu, malam itu  tampil dengan celana selutut tanpa atasan ala tradisi Sakai, justru tampil sangat “kontemporer”. Darus juga memilih tampil di bawah pohon, dengan penerangan dari obor. Ada kebaharuan ruang dan dinamika yang Darus tampilkan. Dalam geraknya Darus sangat riang dan bebas bergerak, berputar, dan bernyanyi khas Sakai. Olang atau Elang bercerita tentang burung elang yang terusir dari hutan akibat aktifitas operasional perusahaan atau korporasi. Pada tubuh Darus, Olang-Olang kembali “hidup” di “ruang barunya”: ruang kebudayaan dalam kepala pemerhatinya.

Penari muda Muhammad Sukri berhasil “me-Melayu” dengan tampilan Zapin Siak yang dibawakannya. Faktor keberhasilannya memang sangat dipengaruhi oleh alur penampil sebelumnya yang didominasi dengan gerak-gerak cepat dan “akrobatik”. Secara psikologis hal ini merupakan penyegaran dalam apresiasi. Namun Sukri memiliki tubuh muda yang sedang atau sudah  dipersiapkan untuk menarikan gerak-gerak tari klasik Melayu. Gerak-gerak seperti Siku Keluang Sembah, Siku Keluang Biasa, Sut tiga, Pecah Delapan dan lainnya. Melalui Zapin Siak ia berhasil “menyampaikan” nilai-nilai kehalusan Istana Siak. Sukri menarikan ragam gerak itu tanpa sandungan sedikitpun,  yang malam itu memikul beban estetika tari Melayu.

M. Darus dan Muhammad Sukri adalah pelipur-harap poros tradisi-klasik karya tari di Riau. Nama muda lainnya seperti Wan Harun Ismail, Achoel, Dio, Dewi Safrila yang sadar atau tidak, “bertanggung jawab” pada keberlangsungan peradaban tari Riau pada poros Inovatif. Menarik untuk dilihat adalah keempatnya tetap sadar akan pentingnya unsur gerak tradisi sebagai landasan karya.

Pada karya yang ditampilkan, terlihat mereka berupaya melahirkan gerakan baru dari apa yang disebut dengan “eksplorasi tubuh”. Eksplorasi tubuh dalam proses berkarya merupakan etos gerak yang harus senantiasa dilakukan. Bahkan menurut Eri Mefri, latihan, injeksi dan eksplorasi tubuh bagi penari/koreografer menjadi hal yang wajib hingga menjadi bagian hidup.

Achoel. Mengekpresikan gerak-gerak lambat sesekali cepat. Judulnya Rungas plesetan kata Sarung. Sarung menjadi metafora terkekang oleh diri sendiri. Tema Sakai pada karya sebelumnya ditampilkan Acheol di Pekanbaru pada pementasan pra-event Paradance ke-17 pada oktober 2017 di Jogjakarta.

IMG_8911
Rungas karya Achoel (foto: Bayu Amde Winata)

Achoel tetap mengeksplorasi gerak-gerak tarian Sakai, malam itu lebih matang. Ia berhasil mewujudkan apa yang menjadi saran dan masukan dari senior tari dan penonton pementasan pra event itu. Pada acara Begawai Tari malam itu, Achoel sedang melontarkan kritik kepada penari yang malas berproses. Achoel mengamati fenomena kondisi karya tari yang mengalami ketertinggalan jauh dari karya-karya tari di Jawa, bahwa sejatinya ada kesadaran kuat mengenai pentingnya berproses tanpa henti, namun kalah oleh kemalasan.

Dewi Safrila menari sendiri. Mencoba mengeksplorasi gerak-gerak sederhana dengan properti yang juga sederhana. Kostum Dewi tak ubahnya yang digunakan sehari-hari, menggunakan celana hitam dan kemeja berbahan jins,  sedikit tomboy. Dewi mencoba merespon kondisi sosial tentang jalanan tentu saja “jalan” konotatif yang bukan wadak jalan raya.

IMG_8912
Dewi Safrila pada Begawai Tari 2018 (foto: Bayu Amde Winata)

Kecerdasan Dewi nampak pada penggunaan properti. Memilih sepatu dan rambut sebagai rekan berdialognya, Dewi sadar harus tetap kreatif pada kondisi artistik yang sederhana. Pada saat tertentu Dewi melepaskan sepatu yang dipakai dan memindahkannya ke tangannya. Dewi juga terlihat berinteraksi dengan rambutnya dengan perlakuan yang kadang keras kadang lembut. Di sana kita dapat menyaksikan perubahan yang terjadi di wajahnya. Pada akhir karyanya, sepatu tadi  digunakan untuk merapikan rambut yang acak tadi.

Mencoba menebak ekspresi Dewi malam itu, bahwa Ia ingin bercerita tentang tapak-tapak hidup yang selalu berada dalam lingkaran sebab-akibat.

Penampilan yang menarik perhatian lain adalah Dio. Ia penari yang saat ini berstatus mahasiswa jurusan tari Akademi Kesenian Melayu Riau memiliki basic tradisi dan gaya tari lain yang cukup. Sejak sekolah menengah Dio sudah mengenal ragam gerak silat gaya Rokan Hulu. Pada penampilannya, Dio mulai gerak tarinya di lobby Anjung Seni Idrus Tintin, sekitar 20 meter dari tempat duduk penonton. Dio bergerak perlahan mencampurkan gerak-gerak silat seperti tupai bogoluik, tondun, olang, dan bobega dan  gerak-gerak modern dance seperti suffle, body wave, hingga popping. Sama halnya dengan Achoel dan Dewi, Dio memiliki tubuh yang sedang dipersiapkan untuk gerak-gerak yang sulit.

Berbeda dengan penari lain, tubuh Wan Harun Ismail sedikit lebih siap. Pengalaman mengekplorasi gerak berkaryanya dapat menjadi jaminan. Selain itu Wan Harun sangat memikirkan unsur-unsur lain selain gerak.

IMG_8974
Perangkap Koreografi Wan Harun (Foto: Bayu Amde Winata)

Wan Harun tampil sangat tidak biasa malam itu. Tepat bersamaan dengan bunyi ilustrasi musik, Wan Harun memasukkan beberapa penonton dalam “perangkap” koreografinya. Wan Harun yang berada di tengah penonton, mentransformasi situasi penonton yang terkonsentrasi dalam beberapa kumpulan dari perbincangan lepas menjadi pemeran dalam karyanya. Transformasi itu ditandai ketika kepalanya tiba-tiba berhantuk perlahan-lembut ke kepala penonton di sebelahnya, Willy Fwi yang pertama masuk “perangkap”. Kepala Wan Harun terus digerakkan berputar seperti kerbau yang menggosok-gosok tanduknya pada tiang tempat talinya diikat.

Setelah Willy, Raju Turangga, dan Iwan Landel adalah “korban” berikutnya. Penonton lain ada yang bereaksi senang, histeris, bahkan ada yang lari dari tempat duduknya menolak masuk perangkap. Setelah itu Wan Harun bergerak cepat meninggalkan penonton menuju ke arah ASIT. Pada kumpulan penonton lain, seorang penari perempuan melakukan hal yang sama, ia juga menggerakan kepala bertemu kepala beberapa penonton, hingga penari ini menyusul Wan Harun. Keduanya bergerak sedemikian rupa dan ditutup dengan adegan berpelukan erat dengan durasi yang cukup lama. Pada karya berjudul Touch Me ini, Wan Harun sedang menyampaikan kerinduan tak terperikan terhadap sosok Ayah. Kedua penari ini sedang mengalami keadaan yang sama.

Jika koreografer senior Iwan Irawan melihat dan mengamati secara seksama “tubuh tari” beberapa koreografer di atas, saya yakin ada secercah harapan akan kecemasannya sepanjang pengamatannya terhadap perkembangan karya tari di Riau. Iwan Irawan selalu mengkritik karya-karya tari tak mentok pada estetika yang disusun untuk lomba. Tentu saja capaian kali ini akan berhadapan dengan momok setiap generasi yang bernama konsistensi.

Koreografer-koreografer di atas sedang membangun etos kepenarian yang signifikan. Mereka secara rutin setiap minggu melakukan latihan olah tubuh atau injeksi dalam program Begawai Tari. Mereka adalah beberapa penari yang bertindak sebagai instruktur di bawah pengawasan koreografer Syafmanefi Alamanda. Dan pada helat Begawai Tari, menyambut Hari Tari Dunia 2018 ini kita dapat melihat hasilnya.

Penulis: Aristofani Fahmi

Editor: Ahlul Fadli

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s