BEGAWAI MUSIK: Organik Atau Mekanik

Tidak ada yang istimewa dari Begawai Musik rabu, 17 Januari 2018 lalu di halaman Anjungan Kampar, Bandar Seni Raja Ali Haji (Bandar Serai), Pekanbaru malam itu. Tidak seperti pada iven musik yang diselenggarakan oleh Pemerintah, atau organiser bermodal besar. Biasa saja. Tidak ada panggung raksasa, warna-warni cahaya lampu digital yang genit “menyapu” mata, tidak ada ragging yang angkuh mengangkangi area musisi-penampil, tidak ada dentuman sub woover yang menggetarkan dada. MC yang biasanya cantik dan ganteng dengan suara tajam-feminin dan low-maskulin diganti dengan host duo-B tampil urakan. Benie Riaw dan Bens Sani.

Keduanya tampil dengan caranya masing-masing. Bens Sani dikenal sebagai MC profesional lebih banyak menggunakan jas-rapih, malam itu menggunakan kaos dan jins casual, ditopinya bertuliskan “pernah ganteng”. Benie Riaw menggunakan baju jumper/monyet khasnya, memilih tidak tampak di panggung mendampingi Bens Sani. Benie Riau diwakili oleh suaranya melalui mikrofon saja. Tidak hadir secara fisik, maka Benie Riaw menjadi Mitos. Cukup dengan suara berkarakter berat meyakinkan untuk menggerakkan dan menghidupkan jalannya acara secara santai dan cair. Suaranya mengelabui visualnya.

Begawai Musik, acara seri perdana ini menampilkan 6 kelompok musik di Pekanbaru. Antara lain, Ujung Sirih, Tikar Pandan, Suara Lisan, Bonsuono, Punca Sebunyi, Opera Kuantan. Motivasinya menciptakan laman bermain bagi seniman musik di Pekanbaru. Sederhana sekaligus sangat cukup untuk menjadi alasan bagi pelaku seni, siapa saja, yang menjadi saksi bahwa Bandar Serai yang terlanjur menjadi pusat kebudayaan Riau tapi sepi dari aktivitas kebudayaan (kesenian) yang progresif. Institusi seni formal, Dewan Kesenian Riau, atau Pemerintah terkait di Riau, yang selama ini bertanggung jawab terkesan acuh, tidak membumi dan tidak tepat sasaran. Kalaupun ada, lebih banyak diadakan untuk kepentingan yang bukan untuk kesenian itu sendiri. Maka Begawai Musik dan iven musik lain seperti Ruang Dengar oleh Riau Rhythm Chambers Indonesia dan Pertemuan Musik Pekanbaru adalah “institusi” yang menyeruak atas desakan atau kegelisahan terhadap absennya institusi/lembaga seni formal itu.

Suara Lisan
Kelompok Suara Lisan komposer Yudi Yongke

Pernah ada iven seni yang juga awalnya lahir dari komunitas dengan semangat ingin menghadirkan ruang ekspresi dan apresiasi seni di Bandar Serai. Misal Pasar Seni, Junjung Seni Riau, dan Leguh Legah. Ketiganya memiliki visi, kemasan, mekanisme berbeda. Pasar Seni menyuguhkan beragam bentuk seni pertunjukan, peminat dan penonton pun semakin lama makin ramai. Setiap minggu warga Pekanbaru dihibur oleh bermacam pertunjukan seni. Junjung Seni Riau. Niatnya mengusung karya-karya puncak yang diproduksi oleh seniman Riau untuk ditampilkan dengan serius di panggung. Serius dan profesional. Leguh Legah. diadakan setiap Rabu malam di Laman Bujang Mat Syam, Bandar Serai Pekanbaru. Dikemas untuk TV karena penyelenggara bekerjasama dengan Ceria TV, sebuah TV dengan format streaming online. Ada pertunjukan dan talk show menghadirkan pakar sesuai tema yang telah ditentukan.

Pernah ada. Artinya tinggal cerita, berhenti dengan sebabnya masing-masing. Ketiganya digelar tidak bersamaan, namun bergantian. Bermacam sebab, namun rata-rata karena tidak ada lagi biaya untuk memproduksi. Jika boleh sedikit berspekulasi, “kematian prematur” ketiga iven seni tersebut disebabkan karena kehabisan energi atau dihabiskan terlalu cepat. Alasannya adalah
selain beban produksi yang (makin terasa) berat dan durasi pelaksanaan yang teramat rapat. Sehingga kuota ide-ide brilian, konten-konten unggulan juga habis. Diperas oleh tuntutan bernama “konsistensi”. Harus ada terus, jika tidak akan dianggap tidak konsisten.

Fenomena “pernah ada” ini dapat dianalogikan dengan transformasi Organik menjadi Mekanik. Mulanya ketiga iven di atas seyogianya lahir secara Organik. Tumbuh dari idealisme melahirkan kantong seni baru selain Taman Budaya, atau Anjung Seni Idrus Tintin. Diproduksi tanpa mengharap imbalan finansial yang fantastis. Namun berubah menjadi Mekanik karena menjadi wajib selalu ada, wajib
menghadirkan ide segar, wajib meningkatkan kualitas, etc. Kemudian menjadi terpaksa Ada oleh sisa-sisa energi.

Coba kita lirik fenomena kembali ke Organik. Sayuran, buahan, atau bahan makanan lain ditanam dan dibiarkan tumbuh natural. Tumbuh dan matang sesuai waktu alam, bukan sesuai keinginan pasar yang harus cepat, banyak, untuk meraup untung melimpah. Maka dilibatkanlah pestisida, obat-obatan dan bahan kimia lainnya. Kalau perlu memproduksi sapi glonggongan, atau tomat, wortel, bayam,
kolang kaling yang berwarna cerah bersih untuk menarik pandangan mata. Industri menganggap visual menarik itu dapat membangkitkan gairah konsumen, apalagi harganya murah dibanding yang organik. Maka konsumen akan lebih banyak mengkonsumsi racun ketimbang nutrisi. Bagaimana dengan seni yang sudah kita “konsumsi”?

Begawai diambil dari bahasa suku Talang Mamak yang hidup dan berkembang di pedalaman hutan Kabupaten Inderagiri Hulu, Riau. Begawai berarti Gotong Royong atau aktifitas kerja bersama. Begawai hanya dapat terlaksana bila melibatkan banyak orang, warga yang menjadi bagian dari struktur habitatnya. Warga Begawai Musik adalah siapapun (musisi) yang “merasa” harus berkhidmat kepada musik (dalam segala dimensi). Berkhidmat tidak cukup diartikan dengan tanggung jawab, ada unsur setia dan pengabdian yang menjadi syaratnya.

Setia – Pengabdian – Cinta kepada musik (seni) kemudian akan “dihujat” sebagai hal yang tidak lagi relevan. Saya wakilkan dengan kalimat-kalimat jaman now.
Misalnya: “gak gitu juga kalee..!” Sebab idealisme berkesenian tidak cukup untuk makan seniman sehari-hari, apalagi yang sudah berkeluarga. Pada sesi diskusi seusai pertunjukan topik pembicaraan mengerucut pada hal tersebut. Ada yang pro ada yang kontra. Maka muncul kata-kata: Cinta butuh modal, cinta butuh bahan bakar, ujar Bens Sani sebagai pemandu diskusi malam itu. Ya, jika itu pemahaman kita tentang Cinta. Cinta yang harus berbalas, Cinta yang dihitung-hitung, Cinta Matematis. Maka tak ada lagi peluang untuk yang namanya Cinta Sejati, Cinta Platonis yang enggan diucap. Yang hidup di masing-masing lubuk hati makhluk. Yang ada karena kebutuhan, bukan kewajiban. Atau jangan-jangan memang tak ada lagi Cinta “jenis itu” hari ini?

Tulisan ini juga mengalir akibat dari apa yang saya temui pada hampir keseluruhan kegiatan Begawai Musik. Saya merasakan Cinta “jenis itu” pada sore hari, pada persiapan acara dan di malam hari seusai gelaran Begawai Musik. Tidak ingin terbatas pada “merasakan” saja, saya memutuskan “mengalami”. Setelahnya saya tak ingin mencemari, bahkan menjaga pengalaman itu agar betah berlama-lama.

Saya sangat yakin kepada Leman, Julisman, Iwan Landel, Lastri “Boy”, Aamesa Aryana, Benny Riau, Bens Sani, Raju dan seluruh teman-teman yang begawai untuk acara ini telah tumbuh “partikel-partikel” dalam diri mereka secara ajaib/organik. Tumbuhnya partikel-partikel tersebut menjadi motor penggerak dan mengkonversi diri, dengan sadar atau tidak, untuk mengabdi hari itu. Saya menyaksikannya, saya merasakannya, kemudian tergerak untuk mencicipinya, sekedar saja. Peristiwa langka yang menciptakan pertemuan dengan seniman lintas generasi dari berbagai cabang. Pertemuan yang membuat kita lupa menilai enak tidaknya kopi di cangkir plastik, atau bertanya siapa yang berbaik hati menyediakan singkong – tempe goreng saat diskusi. Saya yakin ada niat mulia di sana. Yang tumbuh dalam rangka menjadi(kan) manusia lebih manusia.

begawai randai

Opera Kuantan menutup Helat Begawai Musik

Begawai Musik kemudian meng-organik, tumbuh keinginan spontan untuk tidak membiarkan Begawai Musik hidup dengan kesendirian. Spirit begawai tumbuh secara sporadik untuk membuat Begawai Tari, Begawai Teater, Begawai Rupa, dan Begawai Sastra. Penyelenggara utama tentu berasal dari cabang seni yang akan diusung berikutnya. Ini membahagiakan, lebih dari istimewa. Untuk Begawai Musik, setelah seri 1, biarkan waktu alam yang menggerakkan untuk seri selanjutnya. Seperti musim, bergantian dengan cabang seni yang lain: Begawai Seni Riau Musim Tari, Begawai Seni Riau Musim Sastra, dan seterusnya. Satu musim berjalan tentu sangat cukup untuk persiapan. Ini yang harus dijaga untuk tetap organik. Hindari untuk menjadi “rutin” namun harus “berepetisi”. Berhenti dijajah oleh macam-macam kewajiban. Jika tidak, maka tak akan lama berubah status menjadi “pernah ada”. Tentu saja tetap butuh biaya produksi, maka yang dibutuhkan adalah cooling down sejenak, kumpulkan energi kembali. Untuk tetap menjadi organik, helat Begawai Seni ini harus membiarkan Bens Sani tetap “pernah ganteng”, dan Benie Riaw tetap menjadi mitos.

Aristofani Fahmi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s