Jokowi Menjadi Saksi Pelecehan Kesok-Kesok

Cukup lama saya menimbang untuk menulis tulisan ini. Kira-kira 24 jam lamanya. Pertama-tama karena saya segan dengan senior saya kakanda Cucut dan orang tua saya Daeng Basri. Keduanya diminta bertindak sebagai penanggung jawab atraksi seni pada peringatan Hari Koperasi Nasional pada tanggal 12 Juli 2017 di lapangan Karebosi, Makassar. Keduanya berpengaruh terhadap saya. Tapi setelah saya menelusuri informasi lebih dalam, saya bisa tetap menulis dan semoga terhindar dari cap kurang ajar. Tulisan ini untuk penyelenggara peringatan Harkopnas ke 70 yang dihadiri oleh Presiden Jokowi.

kesok7
Danny Pomanto memberikan sambutan Harkopnas (foto: kabar.news.com)

Pemerintah dalam menggelar kegiatan seremonial yang dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah/Negara (APBD/P) setidaknya sudah diproses selama satu tahun anggaran. Mulai dari konsep, konten, dan pembiayaan. Pemerintah Kota Makassar yang menjadi penyelenggara Harkopnas ini tentu sudah mempertimbangkan segala sesuatunya, apa lagi kegiatan ini dihadiri oleh Presiden RI. Sejak dalam bentuk proposal hingga eksekusi. Apabila tidak, yang terjadi adalah kesan tidak professional akan melekat pada penyelenggara.

Bagi Pemerintah kota Makasssar acara ini sukses. Buktinya, Presiden Jokowi memuji pertumbuhan ekonomi kota Makassar yang mencapai 7.9% di tahun 2016. Pertumbuhan ini melampaui pertumbuhan ekonomi Nasional 5.2%. Tentu saja ini hal baik bagi Danny Pomanto sebagai Walikota Makassar. Namun ada yang luput, bahwa penyelenggara Harkopnas telah melakukan pelecehan terhadap Kesok-kesok, alat musik tradisional Makassar. Tanpa  sadar, menghadirkan Jokowi sebagai saksi.

Bermula dari postingan foto-foto penyambutan Presiden Jokowi saat tiba di tempat Harkopnas. Dalam foto-foto itu terlihat ratusan (melibatkan 700an) siswa SD-SMP se kota Makassar. Mereka terlihat sedang duduk berbaris memegang alat musik. Ada yang memegang Ganrang, Kacaping, Parappasa, dan juga (katanya) Kesok-kesok. Sekedar informasi, Kesok-kesok adalah alat musik utama dalam kesenian sastra tutur Sinrilik khas Makassar. Khusus Kesok-kesok, direncanakan berjumlah 200 siswa pemusik, namun Kesok-kesok yang bisa disediakan hanya 41 buah. Akhirnya pelatih mengalihkan 159 siswa lagi bertugas sebagai penyanyi.

 

kesok 2
Aktifitas latihan siswa siswi SD SMP se kota Makassar dalam peringatan Harkopnas 2017 (foto: Ancu Batara)

 

Katanya Kesok-kesok, nyatanya Rebab Jawa. Bagi saya, tidak sulit membedakan yang mana Kesok-kesok yang mana Rebab Jawa. Saya mengenal Kesok-kesok sejak SMKI (1995) dan memainkan Rebab Jawa ketika studi Etnomusikologi di Solo sejak tahun 2000. Diakui juga oleh penyelenggara, memang Rebab Jawa bukan Kesok-kesok.  Karena waktu mepet untuk pengadaan Kesok-kesok.

Berdasarkan informasi, Danny Pomanto memang ‘berimprovisasi’, ingin melibatkan murid sekolah pada kegiatan ini. “Pak Walikota minta supaya ada alat musik tradisional Kesok-kesok pada kegiatan ini. Tidak hanya mengulang yang lalu, selalu didominasi oleh Ganrang dan Kacaping”, kata informan.

Ya… Danny Pomanto berimprovisasi dari rencana awal – dari mata anggaran yang disetujui di APBD  kota Makassar. Karena biaya pengadaan Kesok-kesok tidak ada dalam rancangan kegiatan, kemudian dibebankan ke pihak sekolah dengan menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Dalam (kesenian) musik, improvisasi bisa indah bisa juga buruk. Kali ini buruk. Pihak sekolah tidak sanggup mengadakan Kesok-kesok secepat mungkin. Alasannya dana BOS belum cair. Alhasil, dua minggu sebelum hari H barulah pemesanan dilakukan. Setting pertama, memesan di Gowa dengan harga 900 ribu rupiah. Namun ditolak pihak sekolah karena dinilai bunyi yang dihasilkan tidak bagus. Waktu terus berjalan. Muncullah ide untuk memesan di Solo, karena banyak industri yang memproduksi alat musik. Namun industri di Solo tidak sanggup membuat 200 buah Kesok-kesok dalam waktu 2 minggu. Akhirnya diputuskanlah untuk membeli Rebab Jawa, itupun stok terbatas: 20 dari Solo, 21 dari Yogyakarta. Khusus dari Yogyakarta, Rebab Jawa tiba di Makassar sehari sebelum hari H.

Di sinilah letak pelecehan yang dilakukan penyelenggara, baik itu Pemerintah Kota Makassar maupun pihak Sekolah. Penyelenggara jauh dari kata siap untuk menghadirkan atraksi seni dalam kegiatan ini. Saya menduga Timeline kegiatan sudah berantakan sejak Danny Pomanto berimprovisasi.

Selain itu hal yang menjadi pokok masalah ialah keputusan untuk menggunakan dana BOS untuk kegiatan ini. Memang tidak ada larangan untuk pembelian alat musik dalam penggunaan dana BOS. Bahkan wajib. Namun apakah tepat menggunakan dana BOS untuk membeli Rebab Jawa? Ditambah lagi, menurut sumber, sekolah yang terlibat sama sekali tidak memiliki alat musik tradisional Makassar yang dapat digunakan dalam mendukung Harkopnas. Kecuali SMPN 33 Makassar dan SMPN 3 Makassar. Itu dikarenakan guru keseniannya berlatar belakang Seniman aktif. Lalu sekolah lain yang tidak punya alat musik serupa, dana BOS yang ada tidak pernah digunakan untuk pengadaan alat musik. Bahkan berani menilai  baik – buruk bunyi Kesok-kesok produksilokal.

kesok 8

Alih-alih ingin mengangkat kearifan lokal (di kota dunia), improvisasi Danny Pomanto malah diskriminatif. Saya membayangkan Danny Pomanto dengan bangga menceritakan hasil kreasinya sambil senyam senyum kepada Jokowi, dengan berkata “…iyaminne pannumbulukna butta Mangkasara Kang Mas Joko…“. Tapi saya juga membayangkan Jokowi tersenyum sambil berkata dalam pikirannya, “…iki opo to Dan.. nang nggonku uakeh koyo ngene iki, improve.mu elek…”.

Tulisan ini saya buat karena tersinggung atas kebijakan penyelenggara yang diskriminatif terhadap Kesok-kesok. Mungkin tidak disadari. Mereka terpaksa melakukannya. Untuk persembahan terbaik kepada pemimpin tertinggi di Negeri ini. Namun dalam penyelenggaraan even tentu segalanya dapat diukur. Improvisasi yang indah tidak hanya didukung skill yang mumpuni, namun ‘bijak’ terhadap liyan dalam sebuah ensamble menjadi faktor utama.

Sebab sehabis Harkopnas Rebab Jawa itu tidak menjadi apa-apa di sekolah. Kehadirannya tidak sesuai dengan peruntukannya. Jika tetap dipaksakan untuk diajarkan di sekolah, sesuai protap penggunaan dana BOS, maka pelecehan meningkat level menjadi penistaan. Tapi aah.. apa sih pengaruhnya terhadap pemegang kebijakan. Seni tidak menambah kokoh jabatan.

Ingin saya katakan bahwa, improvisasi Danny Pomanto menggagalkan kesempatan bagi Kesok-kesok untuk menjadi ‘ada’ di tanahnya sendiri. Di sekolah-sekolah, tempat para pewaris berdialog secara batin dengan kesok-kesok, yang membuka peluang untuk saling ‘memilih’ dan/atau ‘dipilih’. Tentu saja untuk tetap ’ada’.

Aristofani Fahmi


Advertisements

7 Comments

    1. Saya baca bbrp media. Liputan6.com, rakyatku.com newsagency.id, humas.sulsel.go.id. Sulsel 7.4%, makassar 7.9%.

      “Tadi Wali Kota Makassar menyampaikan pertumbuhan ekonomi Makassar mencapai angka 7,9 persen. Dan Makassar jauh lebih baik dari pertumbuhan ekonomi nasional kita. Koperasinya bergerak semua, ekspor komoditas kopi, kakao, perikanan yang diekspor melalui Sulawesi Selatan betul-betul memberi topangan pertumbuhan ekonomi nasional,” ucap Jokowi.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s