Seni Media (bagian 3-habis)*: Seni Media di Indonesia Oleh Hafiz Rancajale**

Perkembangan seni media di Indonesia dapat dilihat menjadi dua periode; masa analog yang terjadi sebelum Reformasi 1998 dan masa digital yang terjadi setelah Reformasi 1998. Di masa Analog, beberapa seniman di Indonesia telah menggunakan teknologi media sebagai salah satu unsur karyanya. Namun belum menjadikan teknologi media sebagi unsur pokok pada karyanya. Seperti yang dinyatakan oleh Ugeng T. Moetidjo;

(…) Objek objek material dalam seni rupa multimedia (bagian dalam seni media) sangat mengandalkan kemungkinan teknologi, misalnya pada karya-karya yang berbasiskan, atau setidaknya menjadikan bunyi dan video sebagai elemen karya. Dibanding performance art dan seni rupa instalasi, basis praktik seni rupa multimedia merupakan praktik merakit potongan benda-benda menjadi objek baru. Praktik merakit ini menjadi semacam modus fungsional dalam mengoperasikan model-model artistik karya seni rupa multimedia. Alat-alat itu menjadi suatu moda presentasi, hasil dari mekanisasi atau visual, baik software maupun hardware. Kenyataan di atas merupakan sesuatu yang tanpa preseden dan khas psikoartistik seni rupa Indonesia di masa-masa sebelumnya. Sejarah seni rupa Indonesia sebelum periode 1990an, bisa dikatakan tidak pernah melibatkan penggunaan  seni rupa Indonesia di masa-masa sebelumnya. Sejarah seni rupa Indonesia sebelum periode 1990an, bisa dikatakan tidak pernah melibatkan penggunaan teknologi sebagai basis atau unsur pokok penciptaan karya. (Ugeng T. Moetidjo dalam, “Logika Mekanika dan Teknologis Seni Rupa Multimedia Indonesia”. (influx, Strategi Seni Multimedia di Indonesia, ruangrupa, 2011).

DI tahun 1979, karya Patung Suara dari Bonyong Munni Ardhi menggunakan siaran pembuka dan penutup RRI sebagai salah satu unsur karyanya. Karya Indonesia Menggugat (1979) dari Hardi menggunakan fotografi dan rekaman suara sidang mahasiswa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tahun 1978. Dalam perkembangan seni film eksperimental sendiri, sejak pertengahan tahun 70-an, Gatot Prakosa telah membuat beberapa film eksperimental dan animasi yang menggunakan seluloid 16 mm. Salah satu karya animasinya berjudul Non KB yang berdurasi 2 menit yang dibuatnya di tahun 1979. Tahun 90-an, ditandai dengan karya Heri Dono, Hoping to Hear from You Soon (1992) yang memakai medium video sebagai bagian dari seni rupa instalasinya. Kemudian Krisna Murti dengan karya 12 jam dalam Kehidupan Penari Agung Rai (1993) yang juga menjadikan video sebagai bagian dari karya instalasinya. Pada karya ini, Krisna Murti membenamkan beberapa monitor yang memuat video rekaman dokumentasi tentang penari tradisi asal Bali, Agung Rai. Selain dua orang ini, sangat sulit menemukan seniman yang menggunakan medium video, baik sebagai bagiam instalasi maupun karya utuh berupa video art (seni video).

Meski sudah dimulai tahun 70-an, perkembangan seni media baru mengalami pertumbuhan yang signifikan pada lima belas tahun terakhir. Perkembangan teknologi dan keterbukaan informasi -yang merupakan buah dari perjuangan mahasiswa pada 1998 – yaitu Reformasi, memberikan peluang besar bagi seniman-seniman muda untuk mulai berkarya dengan medium ini karena kemudahan dan murahnya teknologi media, terutama komputer. Periode ini menjadi periode baru dan memasuki masa berkembangnya teknologi media digital. Pada periode ini, teknologi media mulai disadari memiliki peluang dan kemampuan sebagai unsur pokok pada karya seni, yaitu seni media. Seperti yang diramalkan pada tahun 1986 oleh Sanento Yuliman, salah satu kritikus seni rupa yang produktif di Indonesia, menulis sebuah artikel tentang peluang lahirnya seni rupa dari kemunculan teknologi media komputer di masyarakat. Ketika itu, Sanento Yuliman belum dapat mengatakan karya itu sebagai seni media. Dalam tulisannya, ia hanya menyebutkan bahwa;

(…) Ada, ternyata, yang tak pernah bisa dimiliki khayalan kita. Sebuah peluang yang tersedia dihari-hari mendatang. Akankah komputer menyerbu seni rupa kita, secara besar-besaran? (…) Komputer punya kemampuan perupaan yang menakjubkan. Dengan berbagai alat, seperti pena, alat tulis, dan panel –semua elektronik- yang geraknya dapat “diinderai” secara elektronik, orang dapat menggambar atau melukis secara langsung. Juga bisa menggunakan kamera televisi yang dihubungkan dengan pesawat. Komputer dapat menerima dan menangkap gambar, menyimpannya, dan kembali menampilkannya. (…) Komputer dapat menghasilkan rentetan gambar yang memperlihatkan proses alih ragam, misalnya dari ulat ke kupu-kupu. Dan komputer membukakan dunia rupa yang baru. (…) dengan alat ini orang dapat membuat fantasi yang tak dibayangkan khayalannya sendiri. Memakai komputer untuk membuat lukisan dan desain, sangat menghemat waktu serta tenaga. Dan, seandainya berbagai kemungkinannya dijelajahi, tidaklah bisa muncul juga seni baru yang mandiri, yang memberikan pengalaman estetik yang khas, seni komputer? (Sanento dalam: “Seni Komputer. Hidup Komputer!”, Majalah Tempo, 25 Oktober 1986).

Fenomena perkembangan seni media yang berlanjut dengan seni media baru (new media art) pada lima belas tahun terakhir tidak lepas dari kesalahan pengertian terhadap terminologi baru ini. Menurut Agung Hujatnika, beberapa pengamat seni Indonesia secara gampangan dan salah kaprah menerjemahkan frasa ‘media baru’ dengan pemahaman yang kurang memadai sehingga pengertiannya dianggap sama dengan ‘medium baru’, yang berarti tidak sama dengan ‘medium lama’, semacam seni lukis dan seni patung ( Agung Hujatnika: “Tentang Seni Media Baru: Catatan Perkembangan’, Buku Apresiasi Seni Media Baru, (Direktorat Kesenian, Dirjen Nilai Seni dan Film, 2006).

Dalam buku Video Publik karya Krisna Murti, Jim Supangkat menulis dalam “Senirupa Video Krisna Murti”. Salah satu bagian tulisannya, Ia menulis:

senirupa video diadaptasikan oleh seniman-seniman Asia melulu karena medium ini memberikan kemungkinan-kemungkinan eksplorasi seni. Senirupa video akhirnya menjadi suatu simulacrum yang memperlihatkan cara-cara yang berbeda dalam mengembangkan pernggunaan alat-alat video untuk tujuan-tujuan kesenian”. (Jim Supangkat: “Senirupa Video Krisna Murti”, Video Publik (Kanisius Yogya, 1999).

Dalam bukunya, Krisna Murti mengatakan:

Dalam wacana senirupa video prakteknya mempertimbangkan totalitas fenomena visual. Membicarakan dimensi fisik, mau tidak mau kita tidak bisa membatasi dimensi pictorial yang ada di layar kaca tetapi sering juga korelasinya dengan obyek lain. Dalam festival-festival video di Eropa memang ada kecenderungan melihat senirupa video sebagai sajian yang tunggal seperti menonton film seni atau animasi komputer atau senirupa web. Boleh jadi untuk membatasi penilaian tampilan gambar semata, namun terkesan justru membalikkan sejarah. Para pelopor senirupa video justru sejak awalnya tidak pernah menspesialkan seni ini. (Krisna Murti: “Sekitar Media”, Video Publik (Kanisius, Yogyakarta, 1999).

Dalam lima belas tahun terakhir, perkembangan seni media di Indonesia mencapai tahap yang sangat signifikan, terutama di kota-kota besar di Indonesia. Kota utama perkembangan seni media adalah Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Di empat kota ini muncul seniman-seniman seni media baik secara berkelompok maupun individu. Berbagai medium digunakan, dari medium video, bebunyian, instalasi, komik, hingga prkatik biotech art digunakan dalam karya-karyanya. Indikator perkembangan seni media dapat dilihat dari data yang dikeluarkan oleh OK. Video Festival; sejak dimulainya festival seni video ini pada tahun 2003, aplikasi keikutsertaan seniman-seniman muda yang pada perhelatan pertama hanya 80 karya yang masuk. Pada tahun 2015, karya yang masuk ke panitia festival lebih dari 500 karya dari Indonesia. Ini membuktikan bagaimana antusias seniman-seniman Indonesia dalam karya seni media saat ini. Selain itu, karya-karya seni media Indonesia telah diapresiasi di berbagai perhelatan senirupa nasional dan internasional. Perhelatan biennale dan festival seni, tidak lengkap tanpa menghadirkan karya-karya seni media dari seniman-seniman Indonesia.

Berbeda dengan seni-seni sebelumnya, seni media Indonesia memiliki peluang yang tidak jauh berbeda dengan perkembangannya di Negara-negara lain. Hal ini disebabkan karena perkembangan teknologi digital yang hamper bersamaan di seluruh dunia. Sejak maraknya karya-karya seni video pasca Reformasi 1998, karya-karya seni media Indonesia telah dipresentasikan di berbagai perhelatan seni rupa internasional. Loosing Face (Series II, Havana City, Krisna Murti, 7th Havana Biennal, Kuba, 2000; We  don’t Have Any Message Today, ruangrupa, Gwangju Biennale, Korea, 2002: Terra Incognita, et cetera, Tintin Wulia, Sharjah Biennale 11, 2013; Jabal Hadroh, Jabal Al Jannah, Otty Widasari, SeMA Biennale Mediasity Seoul 2014. Bahkan di tahun 2011, instalasi Intelligent Bacteria – Saccharomyces cerevisiae karya The House of Natural Fibre (HONF) mendapatkan penghargaan utama dalam perhelatan Transmediale 11, sebuah perhelatan seni media bergengsi di Eropa. Selain berpartisipasi dalam berbagai perhelatan internasional, karya-karya seni media Indonesia juga telah dikoleksi oleh banyak museum modern dan kontemporer inernasional, antara lain, Fukuoka Asian Art Museum, Jepang; The Van Abbemuseum, Belanda; Singapore Art Museum, Singapura, Queensland Art Gallery, Australia; The Guggenheim Museums, New York, dan lainnya.

*Tulisan bersambung, diambil dari materi Sosialisasi Seni Media, Direktorat Kesenian Kemendikbud di Rumah Budaya Siku Keluang Pekanbaru, tanggal 23 Mei 2017

** Penulis adalah kurator Pekan Seni Media 2017 di Pekanbaru, pendiri Ruang Rupa dan Forum Lenteng

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s