“S” dan Cita-cita Musik Melayu

Huruf Kecil Untuk 6th Riau Hitam Putih Festival

Ketika menonton malam puncak perhelatan 6th Riau International Hitam Putih Festival (selanjutnya Hitam Putih Festival) di Anjung Seni Idrus Tintin Pekanbaru, tanggal 31 Mei 2014, sebuah huruf kecil pada giant screen di latar panggung menyita perhatian saya. Adalah huruf  “s”, mengalihkan imajinasi saya yang sudah terbangun oleh sajian musik di panggung. Saat itu kelompok Ethnic Child sedang menunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah instrumen musik. Teralihnya perhatian dan imajinasi saya bukan berarti sajian musik Ethnic Child tidak lebih menarik dari huruf kecil itu. Saya katakan bukan tidak lebih menarik, sebab usia para personil Ethnic Child sangat belia, antara 10-13 tahun. Namun kemampuan musikal mereka  cukup memberi kejutan pada penonton. Huruf “s” adalah lain hal. Ia membawa pikiran saya kepada beberapa pertanyaan sederhana. Huruf kecil itu menempel pada kata Melody dalam frasa “Malay Melodies”, yang menjadi tema Hitam Putih Festival. Dalam coretan ringan ini saya ingin bermain/berandai dengan huruf “s” itu.

Panggung 8th Riau International Hitam Putih Festival tema “Malay Melodies” yang diusung Malay Music Institute (MMI) sebagai penyelenggara terbilang konkrit. Menyiratkan kepada khalayak bahwa suguhan pesertanya akan menampilkan beragam musik, alat musik, dan melodi khas Melayu. Keragaman itu dapat dengan jelas disaksikan pada karya yang ditampilkan peserta Hitam Putih. Misalnya kelompok Riau Rhythm Chambers Indonesia yang menjadi penampil pertama. Dari dua buah reportoar yang disajikan, komposer Rino Dezapati sangat jelas mengeksplorasi melodi Melayu daratan dan pesisir. Karya pertama diberi judul Jang Si Bono, kedua Dentang Denting Dentum. Sumber garapannya diambil dari tradisi musik hilir sungai Kampar dan aktivitas keseharian masyarakat Melayu pesisir. Ulasan mengenai karya ini dapat dibaca di media Riau Pos, dan media lain.

Setelah Riau Rhythm ada penyaji cilik yang tergabung dalam kelompok Ethnic Child. Mereka membawakan karya berjudul Nandung Anak yang digarap oleh komposer muda Pekanbaru Meckroza.

Menyimak sajian Ethnic Child ini penonton diajak untuk mengapresiasi kemampuan musikalitas spesial pemusik belia. Dengan menggunakan instrumen musik seperti akordeon, jembe, kompang, calempong, dan sebagainya. Kesan saya, kemampuan musikalitas personilnya  berhasil melampaui anak-anak seusia mereka umumnya. Hal menarik lain pada karya Nandung Anak adalah melibatkan unsur drama. Lakon polos anak-anak sontak mengundang tawa penonton. Hanya saja Meckroza sebagai pembina dan komposer terlalu asyik mengeksplorasi kemampuan musikal. Ia lupa pada pentingnya unsur dasar komposisi musik seperti bentuk dan struktur. Sehingga yang terjadi adalah susunan bunyi dengan teknik kompleks yang tidak memiliki hubungan satu sama lain. Alur yang dibuat tidak berhasil menjadi panduan penonton untuk turut melibatkan diri melalui imajinasi. Namun upaya beraktivitas musik sejak dini secara istiqomah yang dilakukan Meckroza perlu mendapat apresiasi.

Penampilan berikutnya adalah karya hasil workshop musik yang dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan yang dilaksanakan sejak tanggal 28-31 Mei 2014 di kawasan Taman Budaya Riau. Karya hasil workshop ini diberi judul yang sama dengan tema Hitam Putih, Malay Melodies. Sajian ini dipimpin oleh komposer kawakan Riau SPN Zuarman Ahmad. Komposisi musiknya berbentuk dua bagian. Bagian pertama didominasi oleh instrumen gesek dalam format mini orkestra. Sesekali terdengar susunan melodi khas Melayu, pada bagian lain nuansa musik Eropa begitu kuat. Mungkin karena seluruh teknik bermain juga mengikuti ala Eropa. Bagian kedua didominasi oleh instrumen musik etnik seperti calempong, bebano, gendang. Ada hal yang unik pada bagian ini. Di mana calempong memainkan melodi khas Kampar/Minang yang dikreasikan dengan teknik polymetri. Antara pola calempong dasar dan peningkah tidak dimainkan sebagaimana biasanya. Komposer Minang Armen yang ikut bermain di sana hanya menabuh satu buah nada calempong yang jarang masuk dalam susunan nada pada melodi khas Kampar/Minang itu. Satu nada itu ditabuh pada ketukan yang ganjil/up beat. Sehingga nada itu begitu kelihatan, dan membentuk susunan melodi baru, namun kita tetap dapat mengenalinya.

Sebagai sebuah karya hasil workshop tentu saja akan banyak kekurangan di sana sini. Pemakluman pasti mendapat tempat, terutama persoalan waktu yang singkat. Sayangnya komposer karya ini kurang berhasil menyatukan kedua bagian ini menjadi satu karya utuh yang kokoh. Sebab kesan yang saya tangkap pada bagian kedua, terlihat barisan pemusik orkestra memainkan nada-nada pendek yang jumlahnya tidak sebanyak bagian pertama. Seperti berusaha “menyumbang” bunyi pada komposisi yang dikuasai penuh oleh instrumen etnik secara kokoh. Dugaan saya karena waktu latihan yang minim.

Dua peserta selanjutnya adalah kelompok Bathin Galang dari Meranti dan Field Player asal Malaysia. Keduanya sama sama mengusung format combo band. Karya yang dimainkan adalah komposisi lagu jenis populer sebagaimana kelompok band pop di media. Tidak banyak catatan saya mengenai kedua peserta ini. Saya hanya berpikir mungkin panitia salah memilih peserta. Atau mungkin ada pertimbangan lain yang belum saya ketahui. Hanya saja terasa asing bila melihat kembali tema atau visi penyelenggaraan event ini yang sangat konkrit.

Malay Melodies
Kembali ke ihwal “s”. Saat ini saya sedang belajar bercakap dengan menggunakan bahasa Inggris secara informal. Saya menduga aktivitas baru ini yang menjadi sebab kepekaan saya terhadap kata sedikit meningkat. Termasuk soal “s” ini. Salah satu fungsi “s” di akhir sebuah kata dalam Bahasa Inggris secara praktis bermakna jamak, lebih dari satu. Saya ingin mencoba menerjemahkan secara bebas makna Melodies dalam frasa Malay Melodies ini dengan kalimat sederhana: melodi-melodi Melayu. Bila ingin dikembangkan sedikit, dapat berarti ragam melodi yang ada di negeri Melayu. Senada dengan Fedli Azis, yang mengatakan melodi dari tanah melayu (Riau Pos, 1 Juni 2014). Pada konteksnya sebagai tema Hitam Putih Festival, Malay Melodies bermakna sebagai ragam melodi apapun bentuknya, asal usulnya, nuansanya, yang eksis di tanah Melayu. Baiknya dibatasi Melayu Riau, di mana event ini diselenggarakan. Definisinya mungkin sederhana namun rentan debat.

Etnomusikolog Rahayu Supanggah menggambarkan melodi yang disusun dari interval nada yang khas pada suatu bangsa sebagai media identifikasi bangsa itu sendiri. Kita dapat mengenal melodi Arab, Minang, Jawa, Sunda, Melayu, India hanya dengan mendengarkan melodinya (Supanggah, 2003). Bagi saya tema Malay Melodies ini menyadarkan kita pada sifat keterbukaan Riau bagi segala jenis melodi (seni) yang ingin menjejakkan diri. Maka dari itu kita dapat berapresiasi pada jejak musik Arab, Turki, Balkan, Jawa, India, Minang, Eropa, Tiongkok, Afrika, Kampar dan sebagainya di Riau. Sebagian dari mereka yang diklaim sebagai bukan Melayu berhasil diterima dan mewarnai dunia musik di Riau. Pada kasus Kampar, dengan munculnya gerakan kembali ke peradaban asal Riau, dapat saya katakan (pernah) ada yang menganggapnya bukan Melayu. Jejak musik ”bukan Melayu” itu dapat kita telusuri pada musik zapin, gazal, seni kompang, instrumen nafiri, calempong. Kita juga dapat melihat seni Reog di Bagan, Barongsai di komunitas Tiongkok, dan sebagainya.

Malay Melodies seperti mozaik musik bagi wajah Riau yang terlanjur multikultur. Dari beberapa yang tersebut di atas terdapat perbedaan pada tingkat  internalisasi estetika musik antara Melayu dan bukan Melayu. Ada yang sudah menjadi Melayu ada juga yang masih berjuang melawan waktu, apakah akan menyusul pendahulunya menjadi Melayu atau mati di tengah jalan. Dalam difusi budaya, hal ini adalah takdir, sebab kebudayaan memang akan selalu menyebar dan berubah.

Dalam pembacaan saya, terdapat penolakan terhadap kehadiran ragam musik yang eksis di Riau dari kalangan seniman (musisi) di Pekanbaru. Sebuah tulisan provokatif oleh komposer SPN Zuarman Ahmad memuatnya untuk mengkritisi event Parade Tari Provinsi Riau. Zuarman menggugat ketidakhadiran jati diri Melayu Riau pada karya peserta lomba Parade Tari yang diselenggarakan tiap tahun oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau. Ada baiknya saya kutip: “Parade Tari Riau, di-garis-bawahi yaitu, Riau (Melayu Riau), bukan daerah Jawa, Turki, maupun Cina, atau daerah lain di luar Riau” (Riau Pos, 9 Juni 2013). Saya ingat karya beberapa  peserta Parade Tari Riau tahun itu, terutama iringan musiknya, memang ada yang melibatkan unsur seni Reog-Jawa yang berkembang di Kabupaten Rokan-Riau. Ada juga yang menggunakan alat musik perkusi Darbuka dari Turki, juga Oud -Turki yang fungsinya mirip dengan instrumen Selodang (Gambus Riau).

Perkembangan atau penyebaran instrumen musik tidak dapat dibatasi lagi. Terutama naluri kreasi seniman musik yang selalu menuntut kebaruan. Baik itu dari gaya, konsep karya, pemilihan instrumen, dan kemasan. Hal ini masih merupakan fenomena world music di Eropa: kejenuhan terhadap musik klasik Eropa membuat para komposernya mencari alat musik lain yang unik (Asia).

“Semua musik bertransmisi. Ia tidak peduli di mana kita tinggal. Ia justru yang akan menemukan kita. Musik apa yang tidak berubah sejak awalnya? Tidak ada, kata komponis Lou Harrison. kita mungkin mendapat kesempatan mendengar musik yang berasal dari tempat lain. Jika kita suka, kita mencontohnya, mengadaptasinya, merubahnya kembali sesuai kebutuhan kita. Seperti itulah cara kita belajar” (Vincent Mc Dermott, 2013). Saya pikir opini Vincent tersebut juga berlaku bagi para komposer yang berlaga di Parade Tari Riau.

Opini Pak Zuarman tersebut sebetulnya bentuk kegelisahan umum “generasi senior” yang terjadi di beberapa kota besar di Indonesia. Kegelisahan mengenai krisis identitas yang juga memengaruhi perkembangan kekaryaan seni. Namun opini tersebut justru menimbulkan kesan pengingkaran terhadap keragaman musik Melayu Riau. Tema dan konsep Malay Melodies mestinya menjadi jawaban kegelisahan Pak Zuarman. Bahwa Riau mengandung potensi multikultur musikal, sejalan dengan takdir sejarahnya.

Malay’s Melody
Sekali lagi tentang “s”. Pada sub judul ini, “s” dari kata Melodies saya pindahkan ke kata Malay. Fungsi “s” pada kata Malay berbeda dengan kata Melody. Bila pada kata Melodies,”s” berfungsi jamak, maka pada kata Malay’s bermakna milik/kepemilikan. Malay’s Melody, secara definitif dapat berarti Melodi Melayu. Pada konteks Melayu Riau, Malay’s Melody akan menjadi “melodi yang dimiliki Melayu Riau”. Bukan melodi Arab, Turki, Balkan, Jawa, India, Minang, Eropa, Tiongkok, Afrika, Kampar dan sebagainya. Pertanyaannya yang manakah melodi yang dimiliki oleh Melayu Riau itu?

Jawaban dari pertanyaan itu tentu saja akan menegaskan identitas ke Melayu-an Riau. Saya tidak dalam kapasitas untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dibutuhkan riset yang panjang dan mendalam untuk mengetahui masih adakah harapan bahwa Riau memiliki melodi (interval nada) yang orisinil. Di sinilah dibutuhkan peran para stake holder. Provinsi Riau sebetulnya termasuk daerah yang beruntung karena duduknya para pejabat pemerintahan di bidang seni budaya yang lahir atau berasal dari Seniman atau Budayawan. Idealnya mereka paham peta problematika dan solusi seni budaya di Riau.

Dari segi kelembagaan, telah ada Program Studi Sendratasik di Universitas Riau dan Universitas Islam Riau. Ada juga Sekolah Tinggi Seni Riau yang didirikan khusus untuk kekaryaan dan keilmuan seni Melayu. Dan tentu saja Malay Music Institute yang dengan independensinya memiliki visi mulia demi pelestarian musik Melayu Riau. Kita dapat titipkan kepada mereka mengenai pertanyaan yang manakah Malay’s Melody itu? Sebagai lembaga kajian seni (musik), sejauh manakah riset yang telah dikembangkan. Kalaupun sudah ada, seluas apa publikasinya. Riau Rhythm sudah memulai mencoba menelusuri kemungkinan adanya musik (melodi) “asli” Melayu Riau. Riau Rhythm mencoba membenamkan diri pada reruntuhan perspektif keberadaan Kampar yang memiliki jejak budaya tua. Upaya mengais sisa bunyi (melodi) yang tersisa mesti disokong oleh bidang lain seperti sejarah, arkeologi, etnomusikologi secara komprehensif. Menurut saya inilah cita-cita dari sebuah bangsa yang memiliki sejarah/peradaban yang kuat atau mayor seperti Melayu Riau. Untuk mewujudkannya, kita hanya perlu mengarahkan meriam ke depan sambil mengarahkan teropong ke belakang.

Sekali lagi, dalam coretan ini saya hanya ber-andai dengan “s”. Sebab dengan adanya jawaban untuk Malay’s Melody maka kegelisahan tidak akan berlanjut ke generasi seterusnya. Atau kita juga dapat ber-andai bahwa jawaban dari Malay’s Melody adalah Malay Melodies itu sendiri.***

***
Dimuat di Riau Pos tanggal 8 Juni 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s